Semalam, Purwakarta Jadi Miniatur Indonesia

Senin, 17 Juni 2013 - 12:07
IMG_4183

Menampilkan Gelaran Seni Panggung se Nusantara

[Purwakarta] Kumaha Damang?, Piye Kabare mas? Engken Kabare, Bli? Napa Habar? Peu na Haba? Ba a Kabanyo? Apa Kareba?, itulah sapaan pertama yang disampaikan para seniman diberbagai propinsi yang manggung sabtu malam (15/06) lalu di gelaran Panggung Seni Budaya se Nusantara pada rangkaian Hari jadi Purwakarta tahun 2013 ini.

Dan seniman asal Papua tidak mau ketinggalan menyapa dengan bahasanya Nara Gerotelo?. Semuanya seolah menanyakan kabar Indonesia, dengan bahasa dan sudut pandangnya masing-masing. Mungkin itulah pesan yang ingin disampaikan Purwakarta untuk Indonesia pada hari jadinya.

Purwakarta menilai, kekuatan bangsa Indonesia yang masih utuh, adalah keragaman budaya dan adat istiadatnya. Penampilan puluhan seniman diberbagai propinsi malam itu, jelas-jelas memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia, “jika hari ini hutan kita habis dieksploitasi, minyak bumi kita menipis, dan sumber daya alam lainnya dikuras, apalagi yang bisa dibanggakan dari Indonesia, kalau bukan Keragaman Budaya Tradisi di masing2 daerah. dan Bali itu terkenal ke mancanegara karena budayanya. inilah yang perlu dirawat, dijaga sekaligus dikembangkan Indonesia”, tegas Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, dalam kesempatannya meninjau acara tersebut.

Terkecuali itu, menurut Dedi, sebenarnya dari keragaman budaya inilah Bangsa Indonesia dipersatukan. Dedi meyakini, masing-masing adat dan budaya yang ada di Indonesia mengajarkan pentingnya hidup rukun, saling mengayomi satu sama lain. Termasuk sunda melalui ajaran siliwangi nya mengajarkan Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh, “kenapa misalnya konflik-konflik sosial berlatar belakang Sara terjadi. Itu karena tidak adanya interaksi dan komunikasi seni budaya yang dibangun selama ini. acara semacam ini saya yakin dapat memperkokoh hubungan antar masyarakat, antar etnis yang ada di purwakarta”, tambahnya.

Rencananya kedepan, Dedi mengagendakan panggung seni budaya se nusantara ini, akan digelar tiap bulan di purwakarta dalam kemasan acara Car Free Night yang memang sudah berjalan sejak awal tahun 2013. Namun, kalau sebelumnya yang ditampilkan dalam Car Free Night ini seni tradisi yang ada di jawa barat, kedepan bisa jadi secara bergilir diisi oleh seni budaya tiap-tiap propinsi.

Seolah mengiyakan pernyataan Bupati, seniman asal Sorong Papua dari Sanggar Seni Nayak menyuguhkan Tarian Mambri yang mengisahkan peperangan antar suku yang terjadi di Papua, namun pada akhirnya mereka berdamai.

Sergius Wabiser, Pimpinan Seniman asal Papua ini, fasih menterjemahkan Tarian Mambri yang sempat diperankan Bupati itu. Menurutnya, Mambri adalah perang suku yang ada di papua, mereka berselisih dengan dipersenjatai panah dan tombak memperebutkan daerah kekuasaan, namun kemudian muncul sosok yang disebut Ondowavi yang diperankan Bupati, seorang Kepala Suku Besar yang mendamaikan mereka, akhirnya mereka berdamai dan hidup rukun, menari bersama, “ini hanya Tarian yang mengingatkan kami dulu. Tapi saya tegaskan sekarang, Papua sudah Damai, tidak adalagi perang Suku”, tegas Sergius.

Tak beda dengan Papua, Seniman asal Aceh pun tak mau kalah baik dalam Tarian maupun makna yang terkandung dalam Tarian yang dibawakan. Sebut saja Tari Saman, Tarian asal suku Gayo Aceh ini, dimainkan banyak personel yang memerlukan kecekatan, kekompakan dan kebersamaan dalam memainkannya. Baik nyanyian maupun Tariannya. Tentu, ini bermakna, bahwa pentingnya hidup penuh kebersamaan.

Tercatat ada 12 panggung seni budaya nusantara yang ditampilkan. Namun begitu, panggung-panggung ini sudah memperlihatkan keragaman budaya Indonesia. Ke 12 panggung itu berasal dari Jawa Barat dengan Seni Longser, Kalimantan Barat dengan Budaya suku Dayaknya, Propinsi Bali dengan segudang Tariannya, dari Propinsi Papua ada peragaan busana suku asmat dan Tarian khasnya, Wayang Kulit dari Yogyakarta, Seni Sorempang dari Sumatera Barat, Debus dari Banten, Tari Saman dari Aceh, Wayang Golek dari Jawa Barat, Alat Musik Kolintang dari Manado Sulawesi Utara dan Kuda Lumping dari Jawa Timur.

Yang menarik dari pagelaran panggung Seni Budaya Nusantara ini, menyemutnya ribuan pengunjung di masing-masing panggung. Mereka yang berkumpul di satu panggung, sebut saja panggung Propinsi Sumatera Barat, pasti banyak dijumpai pengunjung yang berasal dari padang dan sekitarnya. Demikian halnya, panggung dari Sulawesi Utara banyak dipadati pengunjung asal Manado.

Mereka (pengunjung-red) tampak akrab berbincang dengan Para Seniman dengan menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Tak hanya itu, beberapa pengunjung memberanikan diri untuk menyumbangkan lagu daerah dan menyanyikannya sambil menari bersama. Rita, seorang pengunjung warga purwakarta yang berasal dari Manado, sempat bernyanyi dan menari bersama lagu Poco-poco. Sontak lagu dan tarian poco-poco yang populer itu, membuat barisan tersendiri bagi ratusan warga manado yang menari, “serasa ada di kampung halaman ya pa. Kita menari bersama disini dengan teman-teman dari manado lainnya yang ada di purwakarta”, terang Rita senang.

Rencananya, Rangkaian hari Jadi Purwakarta kembali akan digelar sabtu (22/06) depan dengan menampilkan Lautan Egrang. Dimana pada saatnya nanti, warga purwakarta termasuk perwakilan beberapa kabupaten/kota di jawa barat akan menggunakan bambu yang telah didesain khusus untuk dinaiki dan sebagai alat untuk berjalan.

Disamping pada puncak acaranya adalah festival Kemilau Cahaya dengan ribuan lampion yang dirangkai dengan festival budaya se Asean yang diikuti 10 negara pada 29 juni mendatang.

Humas Setda Purwakarta.