25 Sep 20:31

Rukoyah, Korban Dimas Kanjeng Akhirnya Tiba di Purwakarta

Rukoyah (60) warga Desa Sukadami Kecamatan Wanayasa Purwakarta hari ini Selasa (11/10) berhasil tiba di Purwakarta setelah sebelumnya memilih bertahan di Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo Jawa Timur. Ia dijemput oleh Tim dari Pemerintah Kabupaten Purwakarta yang terdiri dari Kepala Desa dan Camat setempat atas perintah Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Dalam pertemuannya dengan Bupati yang selalu mengenakan iket khas Sunda tersebut di rumah dinasnya Jl Gandanegara No 25, Rukoyah mengaku hanya mengikuti pengajian biasa berupa istighotsah dan wirid-wirid tertentu yang menurutnya tidak aneh dan sudah biasa dia lakukan. Karena itu menurut dia, sebenarnya dirinya sangat tidak layak jika disebut sebagai korban.

“Makanya saya ini bukan korban. Masa ada sih korban pengajian. Kenapa saya tidak pulang kesini? Mungkin karena saya pulang ke Yogyakarta, saya kan ada rumah juga disana”. Jelas Rukoyah membela diri.

Kasus penggandaan uang yang marak diberitakan pun sempat disanggah oleh Rukoyah. Menurut wanita empat anak tersebut sama sekali tidak ada praktik penggandaan uang di Padepokan Dimas Kanjeng. Bahkan dia mengaku, hanya melihat proses penangkapan melalui tayangan televisi, padahal saat peristiwa itu terjadi dirinya berada di barak-barak yang dibangun di sekitar padepokan.

“Saya sudah enam bulan tinggal disana. Tidak ada yang aneh. Bahkan saya nonton soal penangkapan itu melalui tayangan televisi padahal saya ada disana”. Kata Rukoyah menambahkan.

Rukoyah tidak menampik bahwa dirinya pernah melihat tumpukan uang yang banyak di Padepokan Dimas Kanjeng. Ia pun sempat menyaksikan tak kurang dari 43 karung berisi uang berikut peti-peti besar yang semuanya penuh dengan uang.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyayangkan peristiwa yang dialami oleh warganya tersebut. Dedi yang juga politisi Partai Golkar tersebut berujar hal ini diakibatkan oleh perubahan pola pikir masyarakat yang ingin segalanya serba instan. Sehingga menurut dia, cara mistis dan klenik dipilih untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

“Bangsa ini akan bangkrut kalau pola pikir mistis dan klenik seperti ini terus dipelihara dan berkembang. Ingin cepat kaya, pakai jalan instan, imajinasinya jadi macam-macam. Pengen banyak uang diantaranya, tapi enggan berusaha”. Pungkas Dedi. (*)