25 Sep 20:33

Beredar Spanduk Provokatif, Dedi Mulyadi : “Ah, Eta mah Biasa”

Spanduk bertuliskan “Sepakbola Mati Suri Karena Budaya” terpasang dalam reklame berkarakter yang terletak di Perempatan Combro, Jalan Basuki Rahmat Purwakarta sejak beberapa waktu lalu. Spanduk bernada kekecewaan terhadap Pemerintah Kabupaten Purwakarta ini diakui tidak dipasang oleh PSSI Purwakarta yang menaungi Tim Persipo.

Manager Klub Sepakbola Persipo Purwakarta, Lutfi Bamala hari ini Sabtu (25/3) memberikan klarifikasi terkait hal tersebut. Ia menegaskan spanduk tersebut bukan berasal dari pihaknya secara kelembagaan. Dugaan sementara, ia menyebut suporter Persipo lah yang membuat spanduk itu.

“Spanduk itu tidak berasal dari kami. Mungkin suara supporter ya,” jelasnya saat ditemui di rumah dinas Bupati Purwakarta, Jalan Gandanegara No 25.

Pria yang juga Ketua LSM Kompak Purwakarta tersebut pun menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Purwakarta selama ini fokus terhadap pembinaan pemain belia. Pembinaan yang dilakukan menurut dia, sudah menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia.

“Saya pembuat spanduknya tidak mengerti, kalau mengatakan mati suri, justru dari aspek pembinaan, Purwakarta ini terbaik. Kemarin itu mengapa tidak ada kompetisi karena kan PSSI nya kisruh, di-banned oleh FIFA. Sekarang kita fokus kompetisi lagi,” katanya menambahkan.

Faktanya, lanjut Luthfi, Pemerintah Kabupaten Purwakarta mendukung penuh Persipo dalam menjalani kompetisi. Hal ini dibuktikan dengan renovasi Stadion Purnawarman yang prosesnya mulai running pada bulan April mendatang. Ditambah, dukungan finansial bagi klub sepakbola Purwakarta tersebut untuk menjalani kompetisi.

“Harusnya supporter mengucapkan terima kasih kepada Pemkab karena Stadion Purnawarman akan direnovasi. Kami juga akan menerima support lain berupa bekal untuk menjalani kompetisi. Syaratnya, administrasi internal kami harus dibereskan dulu, statusnya menjadi PT,” tandasnya.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sendiri di tempat yang sama terlihat santai menanggapi spanduk tersebut. Menurut dia, sudah menjadi hal biasa jika dirinya selalu dituduh tidak peduli terhadap sepakbola Purwakarta meski prestasi pembinaan pemain belia yang sudah diraih tidak bisa dikatakan sepele.

“Ah eta mah biasa, keun bae, mungkin mereka belum pernah main ke GOR Jaya Perkasa, fasilitas olahraganya lengkap disana. Mungkin juga mereka belum tahu bahwa Stadion Purnawarman akan direnovasi. Prosesnya kan harus lelang dulu, jadi mohon bersabar. Kalau mau arungi kompetisi tapi gak punya stadion, mau main dimana?,” pungkasnya santai. (*)